Pertama saya ucapkan apresiasi setinggi-tingginya bagi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Komisi III DPR serta semua perangkat yang telah memperjuangkan nyawa para penduduk Mesuji. Sesungguhnya mereka telah mengaplikasikan sebuah wujud konkret dari tujuan negara kita yaitu “Memajukan Kesejahteraan Umum”.

Sebelum panjang lebar, bagi yang belum tahu, jadi Mesuji itu adalah sebuah Kecamatan di Bandar Lampung, Sumatra Selatan yang ternyata hampir sekitar 30 penduduknya dibantai dengan sadis, seperti di pancung atau di sembelih lehernya atau ditembak mati, lalu ada yang disilet-silet, dan penganiayaan tersebut dilakukan di depan sanak saudaranya untuk beberapa kasus.

Latar belakang fenomena pembantaian tersebut menurut tribunnews.com adalah berawal dari keinginan seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit yang berkebangsaan Malaysia bernama Benny Sutanto, alias Abeng yang memilii perusahaan bernama PT Silva Inhutani berniat melakukan perluasan lahan perkebunan sawit dan karet yang tentunya memakan lahan perkebunan warga, yang berkebun dengan menanam Segnon dan Albasia.

Usaha perluasan wilayah ini agaknya selalu ditentang oleh penduduk sekitar, sehingga akhirnya PT Silva Inhutani membangun PAM Swakarsa yang di backing oleh para aparat keamanan. Setelah dimulai operasional PAM Swakarsa ini, pembantaian mulai terjadi.

Dari sedikit kasus yang saya paparkan diatas, kita bisa menarik 3 buah persoalan besar yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat.

1. Lahan Kelapa Sawit milik perusahaan asing.

Menurut apa yang telah saya rangkum dari artikel tribunnews.com, bahwa ternyata perusahaan asing tersebut menanam karet dan kelapa sawit yang tentunya lebih produktif daripada segnon dan Albasia yang ditanam oleh para penduduk. dengan ini daoat ditarik asumsi bahwa mungkin terjadi sebuah fenomena kalah saing antara perusahaan asing tersebut dengan apa yang diproduksi oleh penduduk sekitar. mungkin juga banyak dari penduduk sekitar bekerja menjadi buruh tani yang mengurusi perkebunan kelapa sawit dan karet milik perusahaan asing.

Hal tersebut menurut saya telah melenceng dari tujuan awal negara kita, yaitu memajukan kesejahteraan umum. nyatanya jika produksi karet dan kelapa sawit ternyata milik perusahaan asing, berarti mungkin dapat diprediksi bahwa

a. Pendapatan dari hasil produksi kelapa sawit dan karet masuk ke kas negara asal perusahaan asing tersebut. Jika ada bagi hasil dengan Indonesia, tentu porsi kita lebih sedikit, hal ini akan lebih merugi dibandingkan kita yang memproduksi sendiri apa yang kita punya (kelapa sawit dan Karet)

b. Perusahaan asing tidak bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat sekitar karena bukan tanggung jawab mereka. mungkin saja mereka menyejahterakan penduduk asli yang menjadi buruh tani, namun kapasitasnya hanya menyejahterakan karyawannya.

Jadi, coba anda bayangkan bagaimana mereka kira perusahaan asing tersebut awalnya berbuat baik dan sempat untuk beberapa saat mereka merasa mulai dapat mempercayai pihak tersebut, namun ternyata PAM tersebut adalah sebagai bentuk pengamanan (yang ternyata cukup anarkis) atas pembebasan lahan yang diinginkan oleh pihak asing tersebut, namun spekulasi terjadi. lahan pertanian mereka adalah sebagai gold miner mereka dimana mereka menaruh nasib mereka, dan jika lahan tersebut diambil untuk perkebunan karet dan kelapa sawit, tentu saja secara garis besar hidup mereka akan menderita dan untuk kedepannya akan semakin bergantung pada perusahaan asing tersebut, dan mau tidak mau menjadi budak yang nantinya akan mau tidak mau mematuhi regulasi yang dibuat oleh perusahaan asing tersebut.

2. Aparat Keamanan lebih berpihak pada perusahaan asing tersebut.

Saya bingung dengan Aparat Keamanan, memang sih secara harfiah aparat keamanan ini dapat didefinisikan adalah sekumpulan orang yang mengkondisikan kondisi dimana ketidak amanan hampir mendekati nol. Aparat keamanan ini mengabdikan tanggung jawabnya pada pihak mana bergantung pada konteks ia di pekerjakan oleh siapa.

kalau misalnya aparat keamanan pada kasus penendangan suster ngesot kemarin, ya dia kan dipekerjakan oleh pihak hotel, jadi tanggung jawabnya pada pihak hotel. sekarang yang dipertanyakan adalah aparat keamanan yang dimaksud di kasus ini, jenisnya apa, dan bertanggung jawab kepada siapa?

Menurut rakyarmerdekaonline.com Aparat keamanan yang dimaksud adalah polisi setempat. sekarang jelas sudah bahwa aparat keamanan yang dimaksud tanggung jawabnya adalah kepada NEGARA, yaang otomatis bertanggung jawab kepada KEAMANAN RAKYAT SETEMPAT. dan tugas mereka secara garis besar jika dikaitkan dengan fakta yang ada seharusnya menjawab beberapa pertanyaan seputar tanggung jawab pada siapa?  pihak mana yang harusnya ditindak? dengan cara seperti apa?

a. tanggung jawab pada Siapa?

sebagai polisi, seperti yang telah dijelaskan diatas, tanggung jawabnya adalah pada masyarakat setempat

b. Pihak mana yang seharusnya ditindak?

Sebagai polisi yang bertanggung jawab pada masyarakat setemat, pihak yang harusnya ditindak adalah pihak yang membahayakan keamanan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

c. Dengan cara sperti apa?

Dengan cara penegakan keadilan berlandaskan hukum yang berlaku seperti undang-undang kriminalitas atau pidana , atau undang-undang masalah perdata dan lain sebagainya. yang jelas bukan aksi anarkis.

Namun ternyata pada kasus diatas, aparat keamanan pada kenyataannya lebih membela pihak asing, bukan rakyat atau masyarakat setempat yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. disini telah terjadi pembelokan tanggung jawab, mungkin karena pihak asing memeberikan fasilitas yang menggiurkan (sebenarnya ini penarikan asumsi dari common sense dan beberapa fakta yang terjadi di Indonesia).

3. Pembantaian di era modern.

Pembantaian di era modern ini sedikit membuat saya bingung bahwa menurut saya di era dimana setiap orang tercerdaskan ternyata masih saja ada beberapa pihak yang belum tercerdaskan. sebuah pembantaian adalah sebuah aksi yang melanggar hak asasi manusia yang seharusnya hal tersebut diketahui oleh pihak yang melakukannya. saya tidak mau banyak bicara mengenai hal ini, karena saya rasa setiap jiwa sepakat dengan saya bahwa pembunuhan satu jiwa saja sudah merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang sangat besar, bahwa ketika nyawa seseorang dibunuh, maka ia telah merampas hak orang tersebut selama umur ia hidup seharusnya, dan merampas hak asasi sanak keluarganya.  yang lucu adalah pembantaian yang terjadi di abad pertengahan masih terjadi di abad seperti ini, apa motivasinya? itu yang saya belum mengerti.

Permasalahan tersebut menurut saya hanyalah sebuah kasus pemicu bagi saya untuk membuka mata ternyata ada sesuatu yang lebih substansial yang kita bahkan belum sadari juga. Permasalahan diatas adalah sedikit dari banyak kasus yang sama terjadi di banyak kecamatan di Indonesia.

1. Kita sudah malas berusaha menyejahterakan hidup rakyat miskin, terutama rakyat di pelosok-pelosok daerah.

Hal ini terbukti bahwa ternyata menunggu 30 orang disembelih dan dianiaya baru kita concern pada permasalahan ini. Padahal jika kita concern pada kehidupan mereka jauh sebelum PAM dibuat, atau jauh sebelum si pengusaha asing ini berniat melakukan perluasan wilayah, atau lebih jauh lagi sebelum si pengusaha niat membangun usaha di tanah Indonesia, mungkin tidak akan ada pembantaian.

2. Aparat keamanan kehilangan hati dan akal

fenomena ini hanya satu dari sekian banyak contoh yang terjadi di indonesia. bahwa sebenarnya masih banyak rakyat kecil yang tertindas dari aksi anarkis aparat keamanan. bukan hanya semata-mata aparat keamanan yang menindas penghuni liar di ibu kota yang justru orang banyak sadar dan berusaha membela mati-matian hanya karena lokasinya di depan mata. Namun sebenarnya fenomena ini adalah sebuah aplikasi dari fenomena gunung es, dimana yang tak terlihat jauh lebih banyak.

3. Indonesia kini menjadi negara yang men-supply buruh yang berkualitas rendah. bahkan Indonesia menjadi buruh negara lain.

Coba saja renungkan kalimat saya diatas, dan terima saja kekalahan ini, namun kita harus mencoba merubahnya. Indonesia memang sudah sangat di underestimate oleh banyak negara, seperti Saudi Arabia, Malaysia, Singapore, Amerika, Cina, Jepang, Korea Selatan, Australia. Secara jelas negara-negara tersebut telah menjadikan kita sebagai buruh mereka. kita ini orang kaya yang bodoh, dan kita dengan senyum bangga membantu mereka padahal dalam  tubuh kita, kita sedang menanggung kesakitan yang cukup parah.

Dari tiga permasalahan konkret diatas saja saya sudah dapat menyimpulkan masalah substansial negeri ini:

KEPEDULIAN

kita kurang peduli terhadap nasib saudara kita di tempat lain. hal ini terbukti bahwa kasus ini (sedah sejak tahun 2009) baru terdengar sekarang.  kita terlalu memikirkan hidup kita sendiri padahal memang sebenarnya ada beberapa penduduk suffering di bagian lain dari Indonesia. Mungkin kehidupan yang keras yang akhirnya memaksa kita untuk bersifat egois. tapi apa sulitnya anda menyisihkan sedikit pemikiran sebelum anda terlelap tidur untuk memikirkan nasib negara ini, nasib saudara-saudara kita di pelosok yang mungkin sedang menahan trauma karena melihat ayahnya disembelih? atau kedinginan karena rumahnya digusur? atau kebingungan karena anak balitanya belum makan hari ini? daripada anda memikirkan cicilan blackberry yang harus anda bayar karena hanya semata-mata sebuah hasrat dalam pemenuhan keinginan, bukan kebutuhan. Daripada anda memikirkan berapa uang yang harus anda bayar untuk membeli sebuah baju yang anda lihat di etalase toko? gunakan kapasitas otak anda untuk memikirkan sesuatu yang menyentuh hati anda sehingga menggerakan kaki dan tangan anda ke kegiatan yang lebih produktif, atau kepada sebuah solusi yang lebih aplikatif, seperti : merelakan blackberry demi membantu sesama.

in the mid-nite like this, i feeling this excitement rising through my soul, then apply as a smile for every dust which flies in my bedroom, because no one can see, i am smiling alone in my room, as i share my biggest gratitude to Him, that day by day He makes me realize that this is actually my way, i should have enjoy it from the begining, and i should have cry for each drop of my tears that i waste as an action of my protest to Him. now i know that

 

Everything leads you to something you will never regret in a future.

 

your god, has planned you the best.

 

so, thanks to every people i met and every people i have discussed with, the fact is, they are all great and even greater people, that i need to learn from them, from their success story, and their experience through their life. and i hope i can do the things they do, even better.

 

 

ada sebuah artikel lucu mengenai seorang satpam yang menendang “suster ngesot”. hal ini sekilas membawa saya pada tawa, karena konyol sekali latar belakang berita tersebut. jadi ada seorang anak perempuan bernama mega, ia dan teman2 nya berlibur di bandung. mega memiliki niat jahil, ia berdandan sebagai suster ngesot dan menakut-nakuti temannya yang baru keluar dari lift. sayang anak itu tidak beruntung, karena ternyata di dalam lift tersebut berdiri seorang satpam, sehingga satpam tersebut refleks menendang mega yang ia kira suster ngesot. kontan mega terhempas sempat tak sadarkan diri, pelipisnya bonyok, giginya juga ada yang patah. wah ini sih lucu banget, seperti cuplikan film konyol.

namun, tidak jadi lucu ketika ternyata satpam tersebut harus dituntut orangtua mega dengan tuntutan  penganiayaan. lantas menimbulkan beberapa pendapat diantara pembaca artikel yang kebanyakan lebih berada di pihak si satpam.

komentarnya lucu , mulai dari analisis bahwa si orang tua mega berani menuntut si satpam karena si satpam lebih miskin. kalau yang menendang lebih kaya, pasti tidak berani dituntut.

atau ada yang secara logis memaparkan pendapat bahwa satpam hotel tersebut hanya melakukan tugas sebagai satpam, yaitu melindungi tamu. yang kurang tepat adalah tindakan mega yang kurang tepat dalam memilih lokasi penjahilan.

benar juga sih, secara logika. ya saya juga sependapat dengan komentar orang ke-2. bahwa salah si anak, mengapa ia harus di depan lift, di dalam kamar kan bisa. kalau di depan lift kan akses umum. bagus hanya satpam, sehingga yang terluka adalah dirinya sendiri. kalau nenek-nenek jantungan, kalau nenek-nenek itu meninggal bagaimana? memang tindakan mega tidak difikirkan matang-matang. orang tua mega juga kurang bijak, tugas satpam kan memang menjaga, seharusnya orang tua mega juga jangan defensif, mendingan mengakui bahwa ini kesalahan anaknya.

Nah, tindakan salah menyalahi ini banyak juga terjadi di golongan pemerintah. Berhubungan dengan anggaran, ternyata banyak yang diselundupkan. lucu banget lagi, alasan para petinggi ini dalam berkelit dari sebuah proses hukum.

si N misalnya, sudah ketahuan belangnya, tiba-tiba pihaknya menyatakan bahwa si N hilang ingatan. haduuuuh, N, rakyatmu itu punya otak loh, ya kali deh kita percaya, orang dirimu saja datang memakai tas mahal. seharusnya kalau mau bikin skenario hilang ingatan tuh totalitas, kayak datang pakai kantong kresek jangan tas nya grace kelly, atau datang telanjang mungkin yaaaa, agar kasusnya bisa beralih, atau agar pihak kepolisian jadi naksir sama dirimu, sama kayak kasus temenmu si A.

Si A mentang-mentang cantik, udah janda pula, ada proses hukum di depan mata , ia pacari seorang kepolisian. menurut saya tindakan si A ini bagus dan cerdik nih, namanya memaksimalkan potensi diri. seandainya ia lebih muda, mungkin hatta rajasa gak jadi besanan kali yaa sama SBY.

nah, tumben-tumbenan nih, di DPR ada orang baik, namanya WON. sepertinya jujur dan terlihat menentang kebatilan, tapi ternyata si WON ini jadi pihak minoritas dan kurang dukungan suara. si WON ini sudah memaparkan kesalahan DPR terkait beberapa anggaran, eeeeh DPR malah balik nyalah-nyalahin si WON, sehingga si WON ini terkena jerat hukum.

eh, mantan artis yang skrg jadi anggota DPR si RS, meminta agar partai si WON ini memecat WON. sama seperti si partai D memecat NZ karena NZ udah terjerat hukum. tapi partai si WON agaknya belum sampai kesana, karena toh WON belum bener-bener salah. aduh pak RS, jangan emosian pak, kalau konteks nya berbeda, jangan diangkat atuuuh, gimana raja minyak nih.

satu lagi, kejar-kejaran nih si MG. yang kayak gini nih yang konyol. udah salah, malah kabur. kabur tuh yaaa bu, pak yaaa, malah bikin kalian terlihat semakin salah. lagian kabur ke singapore, atau lain-lain. kabur tuh ke afrika, ke Ethiophia, ke Afrika tengah ke hutan belantara biar gak ketahuan jejaknya, nah beres kan!

yasudah segitu saja deh komentar saya mengenai orang pintar negeri ini. cerdik geeeeelaaaaa!  cuma saran saya sih, kalau mau kabur dari kesalahan, atau kalau mau berbuat kesalahan inget tuh:

1. harga diri (asumsikan mereka sepertinya tidak takut dengan Tuhan)

2. Nama baik keluarga, nasib anak-anak kalian.

3.yang paling penting nih,  omongan kalian pas lagi mempromosikan diri kalian jadi wakil kami, yang katanya mau menyejahterakan kami.

okeeeeeeee deeeeh, cuma sedikit komen dari mahasiswa nih yaaaa. see you guys di pengadilan tertinggi nanti, depan Sang Maha Tahu. nanti rakyat pasti akan tertawa deh melihat kebenaran yang sebenarnya sudah kami prediksi, namun kalian tutupi dengan kebodohan.

Kyoto Protocol adalah sebuah perjanjian yang digalang oleh organisasi dunia (PBB) di bidang climate change terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB terhadap perubahan Iklim (United Nation Framework Convention on Climate Change – UNFCCC). Kyoto Protocol yang diadakan di Kyoto Jepang pada tahun 1997, ini bertujuan setidaknya mengurangi 0,02 sampai 0,28 derajat Celcius  di tahun 2050. Caranya simple sekali dengan mengajak negara- negara berkembang dan negara maju (negara-negara maju yang digolongkan pada golongan Annex I diwajibkan menurunkan sekitar 5,2% Emisi gas rumah kaca dari tahun 1990). untuk mereduksi emisi gas rumah kaca (Green House Gas- GHG) dengan cara konkretnya mereduksi industri dan segala sektor yang menghasilkan Green house gas tersebut.

Namun apakah sesimpel itu?

Ternyata tidak.  Baru-baru ini, Kanada telah menarik diri dari Protocol Kyoto karena menilai protocol Kyoto kurang efektif. sebenarnya penarikan diri Kanada didasarkan atas penutupan konfrensi yang menghasilkan rencana kerja baru dalam menanggulangi pemanasan global, di Durban Afrika Selatan baru saja ditutup. Kanada juga menambahkan bahwa ia tidak akan mengikuti Protokol Kyoto kalau Negara0negara seperti Cina dan Amerika tidak ikut meratifikasi perjanjian tersebut.

Secara tersirat Kanada telah bebas dari kewajiban mengurangi emisi gas kavca, which is mengurangi industri nya yang tentu saja akan berdampak pada kemajuan ekonominya. Kanada lantas dengan yakin mundur dari Protokol Kyoto, dan merasa mampu mereduksi Pemanasan Global dengan caranya sendiri.

Sebelum itu, fakta lain bahwa Amerika Serikat bahkan belum meratifikasi perjanjian tersebut (Protokol Kyoto). Padahal diketahui bahwa Amerika juga termasuk negara yang menyumbang emisi Gas rumah kaca terbesar di dunia. Namun sampai saat ini Amerika Serikat belum meratifikasi perjanjian tersebut, yang akhirnya Amerika Serikat kini telah menolak untuk meratifikasi perjanjian tersebut. Karena bagi Amerika Serikat Protokol Kyoto tidak menjadi konsentrasi mereka “kyoto Protocol tidak ada di meja kami” begitu ujar Stern, kepala negosiator AS.

Ditambah lagi, India, Brazil, dan Cina yang pada tahun 1997 dulu masih digolongkan dalam negara berkembang, ternyata sekarang juga menyumbang emisis gas rumah kaca dalam skala besar setelah perkembangan industrinya yang pesat sehingga membawa Negara-negara tersebut kedalam golongan Negara maju, namun bukan Annex I, sehingga tidak diwajibkan mengurangi 5,2% Emisi gas. Padahal China ternyata menyumbang 24% emisi gas rumah kaca ke dunia, sementara india kini telah mencapai 5%. Namun Cina dan India bersikeras tidak mau mengurangi Emisi gas Rumah kaca sebelum Amerika meratifikasi perjanjian tersebut. karena menurut mereka Amerika menyumbang lebih besar emisi dibandingkan India dan Cina.

bagaimana dengan tuan rumah, Jepang? Jepang secara tegas menyatakan sikap bahwa ia tidak setuju dengan Komitmen kedua, Protokol Kyoto. yang intinya lebih menekan negara maju untuk konsisten menurunkan Emisis gas karbon, karena saat ini negara berkembang telah melakukan beberapa upaya terkait masalah tersebut. Berlawanan dengan Jepang, Indonesia bergantung pada Komitmen kedua ini.

Lantas, sudah mulai terlihat kan garis besar masalah Kyoto Protocol ini?

Sepertinya keegoisan Negara-negara maju yang menghambat permasalahan ini, kan?

Banyak yang mulai berseru :

“jika Negara maju tidak mau mengurangi emisis gas rumah kaca, kenapa tidak negara berkembang memanfaatkan hutannya untuk industri?”

wajar saja beberapa golongan berfikiran seperti itu sebagai aksi protes terhadap negara maju, namun jika ditelaah memang Protokol Kyoto ini menganjurkan setiap negara untuk berkorban demi masa depan, yang ia bahkan tidak merasakan, tapi akan dirasakan oleh anak cucunya, dan lebih luas, oleh seluruh mahkluk hidup di dunia.

Namun sikap alturis seperti diatas belum tentu dimiliki oleh setiap orang, misalnya Amerika. Ditengah krisis seperti ini, mana mungkin Amerika mau mengurangi emisi gas karbon yang tentunya akan mengurangi sektor industri dan berdampak pada penurunan ekonomi negaranya.

Sama halnya dengan India dan cina, ditengah krisis ekonomi Eropa dan Amerika, ini kesempatan mereka untuk menghidupkan kembali kejayaan yang sempat padam. Mana mungkin mereka mau mengorbankan momentum seperti itu?

Lantas, negara-negara berkembang berkaca kepada kebijakan negara maju, ketika negara maju belum emlakukan tindakan, untuk apa negara berkembang melakukan tindakan yang tentu saja gak akan ngefek banyak, menurut perkiraan mereka.

Jadi ketergantungan atas tindakan masing-masing negara ini lah yang menjadikan Protokol Kyoto tidak efektif. lantas apakah apa yang telah Kanada lakukan adalah sebuah tindakan benar?

Menurut saya, tidak juga. Masalahnya ada pada proses peninjauan lebih dalam mengenai tindakan selanjutnya dari Kanada atas pengurangan emisi gas rumah kaca yang katanya akan ia inisiasi sendiri. kalau begitu, akan sulit bagi PBB untuk tetap mem-follow up dan menilai apakah program tersebut efektif atau tidak.  bayangkan jika fenomena tersebut dilakukan oleh setiap negara di Dunia. bagaimana PBB melihat dan menilai negara mana yang tetap konsisten dalam pengurangan emisi gas rumah kaca, mana yang tidak.

Solusi dari saya sih, agak sederhana:

yaitu pengurangan gas rumah kaca ini jangan ditekankan kepada proses pengurangan Emisi gas dengan cara pengurangan sektor industri, namun lebih kepada penekanan terhadap isu peralihan teknologi.

Mungkin dibutuhkan waktu lama untuk mengeksplorasi teknologi yang berbasis green energy. misalnya diberi tenggang untuk negara-negara maju dalam pembuatan pembangkit listrik tenaga surya, misalnya. Mungkin dibutuhkan biaya sedikit lebih mahal, namun hasilnya akan terlihat dan lebih sustain, karena dapat diberdayakan selama pembangkit listrik tersebut masih kapabel.

Selain itu, untuk negara maju, diwajibkan memproduksi bahan energi yang berbasis bio resources, seperti bio gas, dsb. Untuk tiap industri juga diwajibkan merancang elektronik yang berbasis Green dan berbahan bakar bio.

Coba bayangkan jika, misalnya perusahaan toyota memproduksi mobil berbahan bakar bio atau hidro secara masal, sehingga barang tidak langka harga juga murah. konsumen toyota kan dari negara-negara maju dan berkembang juga, pasti mau tidak mau jika barang tersebut yang tersedia, maka tidak mungkin tidak dibeli, bukan? sehingga green lifestyle otomatis tercipta diantara negara maju dan negara berkembang.

syaratnya hanyalah :

1. Pemerintah setempat tegas terhadap berbagai jenis industri diatas agar tetap mengkondisikan industri diatas tetap konsisten menuju green lifestyle ini.

2. Industri diatas juga jangan takut kalah pesaing, ketika seluruh negara maju ditetapkan atas sebuah peraturan, maka industri tersebut semua serempak dituntut untuk membuat barang produksi sejenis, yaitu green items.

3. Negara maju hendaknya sadar, bahwa negara maju menjadi contoh bagi negara berkembang. ketika negara maju sendiri telah menerapkan pola hidup ramah lingkungan seperti diatas, mau tidak mau negara berkembang pasti ikut.

4. Negara maju juga harus berfikir bahwa usaha ini lebih baik dibandingkaan dengan mengorbankan sektor industri seperti yang telah diributkan. lebih baik meningkatkan perekonomian dengan meningkatkan green industry.

Coba anda bayangkan jika dunia bergantung pada Sumber Daya Alam yang dapat diperbaharui, pasti akan lebih baik bukan? tidak akan ada isu kelangkaan BBM, sektor Pertanian juga menjadi lebih maju, Semakin sering kita menanam tanaman, semakin banyak CO2 yang terreduksi bukan?  bukankah hal tersebut menjadi win-win solution? bagaimana menurut anda?

Kepada seluruh saudara seperjuanganku

Mahasiswa Indonesia yang saya banggakan

Pertama saya turut berbela sungkawa atas kepergian saudara Sondang Hutagalung, Mahasiswa dari Universitas Bung Karno, karena aksi bakar diri dalam menyuarakan aspirasinya.

Peristiwa tersebut mengingatkan saya pada sebuah quotes yang pernah saya baca pada artikel berbahasa asing mengenai aksi bakar diri atau self immolation, bahwa katanya “ketika suara tidak lagi diperdengarkan maka aksi menjadi salah satu caranya.

Self immolation ini adalah sebuah pesan bahwa telah sirna sebuah rasa hormat dan ketakutan akan sebuah sistem atau seseorang, karena bagi seseorang yang membakar dirinya, kematian yang ada didepan matanya sudah tidak menakutkan, apalagi pihak yang bersangkutan.

Self immolation banyak terjadi di Tibet sebagai aksi protes terhadap pemerintahan komunis yang tidak mementingkan kepentingan Hak Asasi Manusia dan cenderung memaksakan kehendak tanpa memikirkan kepentingan rakyat umum. Self Immolation sendiri biasanya dilakukan oleh para biksu, karena mereka adalah orang yang paling peka akan isu-isu HAM di wilayah tersebut.

Self immolation ini seharusnya menjadi sebuah penghinaan terhadap sebuah sistem yang dikritisi. Bahwa harga sistem tersebut bahkan sudah lebih rendah dari pada hilangnya sebuah kehidupan karena disengaja, apalagi bagi sebuah sistem pemerintahan yang berlandaskan Demokrasi, bukan komunis.

Namun, Saudara ku , Mahasiswa Di Indonesia.

Peran kita sebagai Mahasiswa adalah sebagai agen perantara antara kaum yang kurang tahu dengan kaum yang terlalu tahu. Kita adalah sosok netral dimana seharusnya berperan sebagai buffer , yang dapat membela kepentingan rakyat kecil tanpa menghilangkan norma dan ketentuan yang telah pemerintah kita bataskan.

Mahasiswa juga berperan sebagai kaum yang merubah. Merubah sistem yang tidak sesuai dengan hati nurani kita, sistem yang tidak sesuai dengan tujuan negara kita yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945, yaitu:

  1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan Tumpah darah Indonesia
  2. Memajukan Kesejahteraan Umum
  3. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
  4. Ikut melaksanakan ketertiban Dunia

Mahasiswa juga berperan sebagai kaum yang terpelajar dan belum terkontaminasi oleh permasalahan-permasalahan yang akan menggoyahkan konsentrasi kita dalam melakukan sebuah perubahan. Dan seharusnya saudaraku, kita sebagai mahasiswa harus memiliki pendirian yang kuat dan tekad yang kuat untuk menegakkan apa yang kita junjung dan untuk mencapai empat tujuan negara di atas.

Untuk itu, saudaraku, karena kita adalah kaum terpelajar, maka menurut saya, dalam mengkritisi sebuah sistem, kita harus menjadi kaum yang terpelajar. Hal ini sudah dicontohkan oleh pendahulu-pendahulu kita, dalam sebuah gerakan yang membangkitkan semangat seluruh Pemuda di Indonesia, yaitu Budi Utomo. Ditambah lagi sebuah janji atau sumpah yang menggetarkan hati seluruh pemuda indonesia, yaitu Sumpah Pemuda.

Kini, berpuluh-puluh tahun sesudahnya, seharusnya kita jangan melupakan kecerdasan-kecerdasan yang telah dicontohkan oleh para tetua kita dimasa lalu. Ditambah masa kini, komunikasi sudah mudah terjalin, sehingga antar Universitas dapat menuyalurkan aspirasi bersama, lalu setelah terkumpul setiap aspirasi yang diperoleh, hendaknya diseleksi tanpa berat hati, karena seharusnya kita yakin, hal ini bukan sebuah ajang unjuk kemampuan, namun ajang musyawarah dalam mendapatkan hasil yang terbaik. Setelah diseleksi, sebaiknya diajukan baik-baik kepada pihak pemerintahan yang berwenang. Setelah itu sebagai mahasiswa dan sebagai pihak yang mengajukan, hendaknya kita jangan lalai, untuk itu, kita harus selalu menantikan follow up dari pemerintahan, dan jika proposal kita tidak menjadi sebuah isu yang dipertimbangkan, hendaknya kita melakukan musyawarah antar petinggi Mahasiswa tadi, dengan pemerintahan tadi, hal ini bertujuan untuk secara langsung mengkomunikasikan aspirasi dan kepentingan menurut sudut pandang masing-masing. Agar lebih mudah saya akan menjelaskannya dengan sesuatu yang lebih aplikatif, seperti contoh dibawah ini :

Misalnya dalam Permasalahan Hak Azasi Manusia terkait dengan Permasalahan Aspirasi dari rakyat yang tidak juga didengar.

1.Komunikasikan Aspirasi berbasis Daerah

Dalam tahap mengkomunikasikan Aspirasi ini, hendaknya Aspirasi dari seluruh Mahasiswa di Indonesia yang peduli dengan isu diatas, disalurkan kepada keluarga Mahasiswa di Universitas masing-masing (basis daerah) hingga diseleksi dan di rangkum menjadi sebuah kesatuan ide yang akan dibawa ke tahap selanjutnya

2. Komunikasikan Aspirasi Berbasis Sentral

Dalam tahap ini, setelah Aspirasi berbasis daerah tadi didapat, kini saatnya aspirasi tersebut dibawa Oleh perwakilan Universitasnya kepada Badan Mahasiswa Penyalur Aspirasi Terpusat, kita singkat saja BMPAT agar lebih mudah dalam penyebutan. Teknisnya BMPAT ini dikelola oleh seluruh pimpinan Mahasiswa dari Universitas-universitas di Indonesia dan dipimpin oleh satu Mahasiswa yang menurut mahasiswa lainnya memiliki kapabilitas paling baik dalam sebuah musyawarah. Rapat BMPAT ini bisa berupa pertemuan formal atau non formal, atau konferensi via internet.

3. Musyawarahkan menjadi bentuk konkret

Hal ini seharusnya menjadi hal yang paling sulit, namun hal yang hanya bisa dilakukan oleh mahasiswa, yaitu perwujudan konkret dari aspirasi-aspirasi yang tadi kita kumpulkan, misalnya Rancangan Undang-Undang, atau sebuah program kerja, dan lain sebagainya.

4. Pengajuan Proposal kepada Pemerintah Pusat

Setelah kita mendapatkan bentuk konkret, kini saatnya kita mengajukan rancangan tadi kepada pemerintah pusat guna dipertimbangkan fungsinya demi kemajuan bersama. Waktu itu sepertinya Kampus saya sempat mengajukan sebuah rancangan Undang-Undang kepada pemerintah pusat, jadi sepertinya Pemerintah masih mau menerima beberapa saran dan kritik dari rakyat, apalagi dari mahasiswa.

5. Melakukan follow up  dengan memeriksa secara berkala terkait aspirasi yang telah kita ajukan.

Istilahnya kita tetap meminta informasi dari pemerintah pusat mengenai tindakan selanjutnya yang telah menjadi porsi mereka. Tentu saja semua keberhasilan aspirasi yang telah kita ajukan bergantung kepada mereka,  apakah akan dilaksanakan atau tidak.

a. Jika Iya

Jika Aspirasi kita akan dilaksanakan, maka kita harus membuat sebuah badan yang mengawasi apakah pelaksanaannya sesuai dengan aspirasi kita atau tidak, atau malah melenceng total.

b. Jika Tidak

Jika Tidak hendaknya kita lakukan komunikasi secara langsung, istilahnya dengan me-lobby pemerintah dan meyakinkan bahwa apa yang kita buat adalah sebuah masukkan yang berarti, dan dapat membuat perubahan. Untuk itu butuh dibuat diskusi terkait dengan sudut pandang dari masing-masing pihak. Sampai mendapatkan win-win solution.

Saran untuk Mahasiswa : Sebaiknya pada diskusi ini, diutus para mahasiswa yang paling faham terkait isu dalam aspirasi tersebut, dan yang sekiranya pandai me-lobby.

Saran Untuk Pemerintah : Sebaiknya pada tahap ini pemerintah bersikap terbuka dan mau menerima saran dan kritik yang membangun, namun tetap membatasi mahasiswa agar tetap pada jalurnya.

Cara seperti diatas menurut saya akan lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan hanya berdemo dan melakukan kegiatan anarkis yang bahkan merugikan kita pihak mahasiswa,Saudaraku. Namun tentunya untuk melakukan hal diatas kita butuh sebuah rasa yang sudah lama kita lupakan, yaitu “SATU”. Cara tersebut akan berlangsung jika kita mau bersatu, mau tenggang rasa, dan ikhlas demi terwujudnya cita-cita kita bersama saudaraku. Cara tersebut juga akan memakan banyak pikiran, namun setidaknya itu hal yang lebih baik daripada memakan banyak tenaga dan menyakitkan badan. Karena kita adalah kaum terpelajar, saudaraku, hendaknya kita gunakan apa yang tidak dimiliki generasi lain, yaitu otak. Jadi kepada saudaraku Mahasiswa Indonesia, sudahi saja aksi anarkis kita, saya sebagai wanita sudah lelah menangis melihat kalian melakukan aksi tersebut. Lebih baik kita gunakan pikiran kita secara cerdas demi menindas kebodohan yang ada pada sistem, demi sebuah perubahan, demi mahasiswa yang merubah. Kita telah kehilangan sebuah nyawa, jangan sampai kita kehilangan nyawa-nyawa yang lainnya.

Best regards, your Iga Andita.

Mahasiswa

there was a slight delay when i am waiting for the HPAIR team calling me via skype. then the torcher wasnt only that thing.

After i wait about 10 minutes, HPAIR  team then finally Online.  It was one o the most scariest thing i have ever experiencing! that was between life and death. partly of my body wanted to ignore the phone calls because i dont want to live in fear, like i wanted to give up. but partly of my body want to answer it, because it is always be my dream. then, i followed my intuition, i followed my dream.

I answer that i-think-kinda-sexy voice of HPAIR team. but then he couldn’t hear my voice, which is technical problem. then he tried to reach me by phone calls, but then the signal was bad. i couldn’t hear him clearly, then he suggested me to find another computer with better microphone, so we can still do that interview via skype.  then i borrowed another computer, then here it was!

Successfail!

part of my body thinks that it was a good thing

part of it thinks it was a failure.

i was nervous so i can’t speak correctly considering the grammar, then some of my speech was succesfully done without grammar.

but i brought interesting issues there!

which is good

then i think i was quiet fluent that time

but then i remembered that i was stumbling on some words.

and my vision was excellent!

so, the speculation are entering and running trough my brain now

but i hope the best!

soooooooo

wish me best guuuys!

and for the HPAIR team, which has a kinda sexy voice

i think you are not that handsome

but if you accept me, i know you are handsome!

Jadi sampai suatu malam hidup saya tenang-tenang saja, lalu kemudian saya terusik karena ibu saya menyuruh saya untuk membaca sebuah artikel mengenai rekening yang bernilai milyaran rupiah milik Pegawai Negeri Sipil muda. Gila? gila!

Sebenernya setelah difikir-fikir memang ada sebuah keanehan pada sistem PNS sendiri. kalau diibaratkan sebuah tubuh dengan beberapa sikap yang ia miliki, dunia per-PNS-an itu sebagai Preman, dimana diluar ia nampak biasa-biasa saja segar dan bugar, namun akhlaknya, sifatnya, sikapnya ternyata luar biasa mengerikan.

Tentu saja kita belum lupa sama seorang koruptor yang terkenal di tahun 2010-2011. Siapa lagi kalau bukan Gayus Tambunan. Kita masih hafal betul kasus-kasus dia, bagaimana ia berkelit, kabur, dipenjara, kabur lagi. kita benar-benar dibuat heran sama dirinya, yang cuma satu orang. dan sekarang ada banyak orang, kita dibuat apa sama PNS ini?

Sebelum kita jauh membahas soal-soal terkait dengan korupsi PNS, kita luruskan dulu pemahaman kita, saya dan anda pembaca mengenai sifat-sifa PNS yang sudah saya mention di atas.

Entah kenapa saya bingung dengan para calon PNS, dan PNS yang ingin anaknya jadi PNS ( ini lebih crusial, karena pasti si PNS ini sudah kenal betul dengan dunia per-PNS-an) , apa motivasinya menjadi seorang PNS, dan mengajak keturunannya menjadi PNS?, beberapa orang bilang hidup terjamin. Karena ada tunjangan pensiun , dsb.

loh, memangnya di perusahaan lain tidak ada tunjangan pensiun?

loh, bukannya sebagai orang tua seharusnya menghimbau anaknya agar lebih sukses dari dirinya? kenapa harus jadi PNS?

loh, memangnya di perusahaan lain tidak terjamin? bahkan PNS gajinya lebih sedikit, lantas terjamin bagaimana?

kalau begitu definisi terjamin bagi PNS itu seperti apa?

Terjaminnya PNS itu melihat fakta-fakta yang ada antara lain :

1. memanipulasi anggaran, agar masuk ke anggaran pribadi.

yang ini benar nih terjamin, saya akui. sampai tua juga masih terjamin. Karena anggaran yang dimanipulasi bisa sampai milyaran.

Sebenernya pemerintah pusat itu menganggarkan anggaran untuk rencana pembangunan infrastruktur daerah itu banyak banget. misalnya untuk pemeliharaan sekolah dasar di daerah A. tapi ternyata sedikit demi sedikit porsinya di ‘cubit’ sama para PNS yang ingin sejahtera tadi. belum kalau proyek sudah selesai, ada sisa, di ‘cubit’ lagi oleh mereka.

2. Jam kerja longgar

Masih ingat kan berita yang waktu itu sempat marak terdengar bahwa banyak PNS yang go shopping ditengah jam kerja. Cuma PNS yang bisa seperti itu. mahasiswa aja gak bisa, apalagi pegawai beneran. PNS ditengah jam yang seharusnya ia produktif bagi negara atau daerahnya, ia malah produktif bagi dirinya mencari barang-barang bagus bagi dirinya dan keluarganya dan entah dengan uang siapa deh dia membeli barang tersebut.

3. CPNS untuk  pendidikan akhir SMA

bukan saya tidak menghargai orang yang berpendidikan akhir hanya sampai pada tahap SMA, namun dari kasus ini dapat diasumsikan bahwa untuk menjadi seorang PNS tidak dibutuhkan pendidikan yang tinggi. padahal menurut saya menjadi PNS adalah  pekerjaan yang  beban amanah nya berat dan butuh profesionalitas karena tujuannya adalah untuk memajukan sebuah daerah atau wilayah dengan salah satu aplikasinya adalah melayani masyarakat.

Orang yang berpendidikan akhir rendah, tidak terbiasa berfikir kritis, berfikir solutif, dan bertingkah profesional, yang pendidikan akhir D3 atau S1 aja masih banyak yang belum berfikir kritis, solutif dan act professionally.Ditambah orang yang berpendidikan rendah itu pola fikirnya cenderung pendek maunya instan. sehingga dalam melakukan sebuah tindakan tidak difikir matang-matang. Padahal menjadi PNS itu kerjanya adalah melayani masyarakat, dan mementingkan kepentingan umum. untuk itu dibutuhkan pemikiran yang matang dan kritis agar pola fikir PNS itu tidak melulu uang. namun karena kurang lamanya pendidikan (lulus SMA saja sudah dapat menjadi PNS) maka pemikiran mereka cenderung uang dan instan,maka terjadilah kesalahan-kesalahan moral seperti korupsi, dan sebagainya.

Untuk itu maka saya memiliki beberapa solusi bagi penyeleksian calon PNS kedepannya.

1. Test bahasa inggris menggunakan Toefl

Toefl pada sekarang ini sudah bukan standar yang baik jika kita ingin keluar negeri melainkan IELTS (menurut info dari teman saya). Namun dalam test seorang CPNS TOEFL masih sah digunakan mengingat bahasa inggris belum banyak digunakan di daerah-daerah. Namun at least dengan test TOEFL orang tersebut berarti mengerti inggris dengan grammar nya sedikit, bukan hanya inggris asal. dengan demikian dapat diasumsikan orang yang inggrisnya sudah lumayan cakap, berarti berpendidikan tinggi.

2. Pembuatan Makalah mengenai masalah yang terjadi di bangsa Indonesia.

Pembuatan makalah dengan tulisan tangan mengenai permasalahan yang terjadi di Indonesia beserta solusinya ini menilai bebrapa hal misalnya :

  • melihat dari konteksnya kita dapat melihat Apakah orang tersebut mengerti permasalahan bangsanya
  • Melihat dari pola berfikir saat menulis dan masalah yang diangkat, kita dapat menilai Apakah Orang tersebut terbiasa berfikir kritis
  • Melihat dari solusinya, kita bisa menilai apakah ornag tersebut berfikiran solutif.
  • melihat dari tata bahasanya, kita dapat melihat apakah orang tersebut cukup berpendidikan, dan mengerti cara penulisan yang baik
  • Jika PNS itu mau mengumpulkan makalah, berarti ia adalah orang yang gigih dalam bekerja, karena telah mau repot-repot menulis dengan tangan sebanyak minimal 5 halaman. dan penulisan dengan tangan ini adalah juga sebagai identitas dan parameter sebuah originalitas karya. kalau dengan komputer, bisa saja ia membayar orang.

Makalah tersebut tidak usah tebal-tebal, 7 atau 5 halaman cukup. hal ini bertujuan agar orang tersebut mengerti benar masalah yang ia ambil, dan yang membaca dan menilai makalah juga mengerti poin-poin yang ia miliki.

mungkin baru segitu saja solusi yang terfikir dari saya, teknisnya juga mudah-mudahan sudah jelas. Hal ini demi peningkatan kualitas PNS kita yang bermoto sebagai seorang “ABDI NEGARA”.

Namanya saja Abdi Negara

seharusnya PNS itu ikhlas mengabdi negara, dan jangan berorientasi pada kekayaan.

seharusnya mereka yang masih belum mengabdi pada negaranya, pertanyakan hatimu, pantaskah engkau memakai seragam Abdi Negara mu itu? malukah engkau pada seragam yang melekat ditubuhmu? engkau seharusnya mengabdi pada negara, bukan negara mengabdi padamu.

Jadi bagaimana menurut anda? apakah PNS butuh peningkatan mutu? agar mereka dapat mengabdi pada negara.

Waktu itu saya berusia 15 tahun. saya mengikuti trend yang juga diikuti oleh kebanyakan dari temen saya. Saya menurunkan rok saya sepinggul, alias hipster, yang zaman dahulu sangat hip. Lantas Pria itu marah kepada saya karena dia tidak ingin saya melakukan hal yang melanggar ketentuan pemakaian seragam yang benar. Beliau benar-benar marah kepada saya. waktu itu pukul setengah 5 pagi dimana seharusnya saya sudah berangkat ke sekolah. Karena rumah saya di bilangan Depok, dan sekolah saya di Cikini waktu itu, maka kami harus berangkat puku lima tiga puluh agar menghindari kemacetan. Pria itu dibuat jengkel bukan main oleh segala argumen saya yang menantangnya, dan segala perkataan kasar yang tidak sepantasnya saya ucapkan kepada beliau. ditambah ekspresi saya yang seolah melecehkan beliau. akhirnya ia menghempaskan kekesalan kepada rice cooker yang ada di dekatnya. Saya takut, dan menangis. Wanita itu, beliau hanya diam tak tahu harus berpihak pada siapa.

Wanita itu telah siap dengan pakaian rapih dan fisik nya untuk mengendarai kendaraan diesel kami yang sebentar lagi akan melaju dari Depok ke Cikini demi mengantar saya. Wanita tersebut dulu hampir pernah divonis kanker ovarium, saat saya masih duduk di kelas 3 SD. menginjak kopling saat mengganti gigi berat bagi kakinya, dan rahimnya. dimana pada suatu hari ia mendapati pendarahan pada rahimnya karena terlalu lelah mengantar saya Jakarta- Depok dengan mobil diesel.

Sepasang pria dan wanita tersebut adalah orang tua saya.

Masih ingat sekali masa-masa kecil dulu betapa bahagianya Ayah saya ketika saya meminta sepeda roda dua. Bukan membeli sepeda baru dengan motif Dalmantian, seperti yang tetangga saya miliki, beliau malah meminta rangka sepeda bekas saudara saya. dan setiap pulang dari kantor ia melanjutkan mengamplas rangka tersebut, sedikit demi sedikit, tahap demi tahap ia lakukan sampai pada pemilihan warna cat, ia menanyakan pendapat saya. Waktu itu saya memandang rendah sepeda tersebut, sepeda yang akhirnya berwarna kuning tersebut. saya tidak puas karena tidak ada warna pink, atau tidak ada motif dalmantion pada jok nya. Saya tidak puas karena ayah saya membuat sepeda tersebut dari awal hingga selesai, saya tidak puas pada kerjaan yang ia lakukan disela-sela hari kerjanya dmei melihat senyum yang terpancar dari wajah anak pertamanya. sampai pada suatu pagi, ia mengajak saya melihat sepeda yang sudah jadi tersebut. bahkan sudah ada 2 roda tambahan yang membantu saya belajar roda dua. kini tiba waktunya ia memberikan sentuhan terakhir pada sepeda tersebut. yaitu bel.

Dengan ketidak puasan saya melihat sepeda itu. dan ia memasang bel tersebut. bel tersebut berwarna biru. buat saya dulu, perpaduan warna biru dan kuning adalah sebuah kegagalan. saya bahkan malu dengan sepeda itu. lalu saya baca tulisan di bel tersebut. I LOVE YOU dengan gambar hati kecil disamping nya. Saya dulu tidak peduli. dipikiran saya hanya motif dalmantian pada sepeda milik tetangga saya.

Kini saya sadar begitu berarti saya dimata ayah saya sehingga beliau benar-benar niat untuk membuatkan sebuah sepeda dikala ayah-ayah lain hanya membelinya. lucunya saya baru sadar ketika usia saya 17 tahun, dimana tiba-tiba serangkaian kejadian masa kecil berhasil membuat saya menangis dan menyadari betapa berharga Hidup saya , karena memiliki ayah seperti Pria tersebut.

“Aku mau mukul ibu!” kata saya membentak kepada wanita tersebut. saat itu usia saya 15 tahun. Seorang anak karena pergaulannya berani berniat untuk memukul ibunya. itu adalah saya.

Saat itu masalah uang dan pembelian Ponsel baru. dimana teman-teman saya telah memiliki ponsel baru, sementara saya masih dengan Ponsel lama saya.  Saya iri, menurut saya saya berhak mendapatkan ponsel tersebut. Karena anak lain mendapatkannya. Saya berdebat dan bertengkar dengan beliau sampai-sampai ayah saya turun tangan. Seperti biasa, argumen saya meremahkan dirinya. Saya pandangan saya meremehkannya. Siapa sih dia bisa saya perlakukan seperti itu? Dia ibu saya! dimana dulu saya buang air di pangkuannya, dan ia dengan senang membersihkannya. Jauh di kemudian hari, saya mempermalukan dirinya dengan segala tingkah laku kenakalan saya. Dimana jauh kemudian hari saya membentaknya hanya karena saya salah dan tidak mau dimarahi. Beliau adalah ibu saya, yang benar-benar memberikan semua jiwa dan raga buat kami sekeluarga.

Saya baru sadar hal tersebut saat saya berusia 17 tahun. dimana pada suatu malam saya tertegun karena mendengar teriakan dan makian yang saya lemparkan pada ibu saya.

Lantas, setelah 5 bulan saya tinggal sendiri di Bandung, saya pulang ke rumah. Saya buat sebuah kesalahan baru, lalu ayah saya menegur saya, saya tatap matanya. Ekspresi pria itu berubah. Ia tak berani lagi marah kepada saya. karena saya telah dewasa, dan seharusnya mengerti mana yang benar dan mana yang buruk. Dimana kemarahan itu? saya sejujurnya merindukannya. Apa yang terjadi?

Ketika saya dan adik saya, serta ibu saya hendak pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Saya dan adik saya mematut diri di kaca. tiba-tiba datang ibu saya. Baju yang dikenakan saya dan adik saya saat itu sangat bagus, sementara ibu saya mengenakan baju gratisan dari event yang diadakan oleh ayah saya. kalau diingat-ingat kembali, memang benar, hampir semua baju ibu saya adalah baju event yang ia datangi.

“bu, beli baju lah masak ibu bajunya gratisan mulu” kata saya.

“ya buat apa? ibu udah tua, gaji ibu buat uang jajan kamu dan adik-adik mbak”

Saya terpaku.

Sampai pada suatu hari, Saya temui ibu saya di sela-sela kuliah saat beliau harus dinas ke Bandung. Beliau baru saja dari Sukabumi mengikuti sebuah acara. Karena dingin, beliau menggunakan jaket. itu bahkan jaket adik saya. kalau dipikir-pikir, kapan ibu saya benar-benar membeli barang untuk dirinya. semua ia curahkan untuk kami anak-anaknya.

Sesaat lalu, saya mengadah ke langit-langit sambil berfikir. Sepasang kekasih tersebut harus menjadi orang yang paling beruntung karena kami, anak-anak mereka akan berjanji untuk hidup membanggakan mereka, di setiap detik yang tersisa dari hidup mereka dan setiap detik yang seharusnya menghasilkan sesuatu di usia kami yang masih produkitif. Dan jika saatnya kembali, mereka akan dikenang sebagai orangtua dari orang-orang hebat. I love you Mom, I love you Dad. more than anything in the world. and i would dare my life for you, even if you tell me not to.

sepasang pria dan wanita itu tertawa di meja makan setelah makan malam denganku. sesaat aku merenung dalam tawaku dengan mereka. Ya Allah, aku ingin meringankan beban dipundak mereka, biar saja mereka tertawa seperti ini tiap hari, dan aku gantikan saja beban itu. suatu saat, Allah. Aku yakin. Secepatnya.

sekitar 45 menit yang lalu sekujur tubuh  pikiran, dan batin saya terkonsentrasi pada 3 lembar HVS yang menentukan akademik saya, yaitu lembar Ujian. Lembar Ujian tersebut secara tersirat terdiri dari 3 jenis soal. soal pertama terdiri dari beberapa sub soal, yang saya tidak dapat terima adalah soal tersebut dibuat dari materi-materi yang sama sekali tidak tertera di slide yang dosen saya berikan kepada saya. soal-soal tersebut waktu itu secara gamang beliau terangkan dengan durasi yang sangat singkat. padahal itu materi baru, yang substansial, dan hampir semua dari kita tidak mengerti materi tersebut. licik.

kadang saya bingung, jika ia memang terampil menjadi dosen, apakah waktu beliau seumuran saya, di posisi mahasiswa, apakah beliau juga terampil menjadi mahasiswa? atau hal tersebut tidak cukup bisa menyentuh hatinya, bahwa mahasiswa butuh dijelaskan, apalagi ini materi baru yang ia bahkan tidak berikan referensi. ah, sudahlah, saya tidak mau banyak mengeluh. mudah-mudahan terjadi miracle. tapi bener deh, patut dipertanyakan ketika sebuah kelas nilainya jelek semua, mungkin hanya satu atau dua orang yang dinilai lumayan, apakah benar dosen tersebut mengajar dengan komnikatif dan menyampaikan semua informasi yang ia punya? masalahnya menjadi seorang pendidik, hendaknya seperti guru silat. dimana ia mengajarkan setiap ilmu yang ia punya, jangan pelit-pelit, lantas mengeluarkan soal yang sulit. memangnya kalau setiap mahasiswa mendapat nilai jelek dari setiap ujian yang beliau buat, ada keuntungan yang ia dapat? jadi guru besar? atau dianggap profesional? profesional itu adalah bekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. lantas ditambah lagi torcher saat penilaian oleh beliau yang notabene nya perfeksionis. Apa untungnya buat dia?

Belajar itu bukan buat nilai, saya juga mengemban ilmu bukan buat nilai. tapi belajar itu buat mendapatkan informasi yang belum saya dapat, tapi hasilnya nihil. yasudah deh, ini emang ungkapan dari rasa kekecewaan saya akan dosen saya yang katanya profesional, dan katanya guru besar.

jadi saat ujian tadi, karena sudah terlalu pasrah, saya akhirnya memperhatikan gerak-gerik lawan sekaligus kawan saya, yaitu teman seangkatan. Ujian tadi berupa ancaman buat kami kelas genap. sulit sekali, dan membingungkan. sehingga banyak dari kami pada saat disana experiencing sebuah dilema dimana ia ingin walk out from that room, sementara ada tugas yang harus dikerjakan as torch as hell. sehingga tidak sedikit dari kami yang diam menunggu waktu usai sambil sesekali mengarang bebas dan berdoa akan petunjuk.

mendekati waktu usai, banyak diantara kami yang sudah mulai gelisah, karena banyak diantara kami yang belum juga dapat petunjuk, dan belum mendapat pembaharuan akan jawaban kami. namun pada momen disini terdapat sebuah pilihan yang sangat riskan, yaitu dikumpulkan atau biarkan diri menunggu waktu usai. kalau dikumpulkan, keluar sudah dari neraka, namun tidak tahu nilai bagaimana. kalau stay in that room, berharap dapat inspirasi, namun sama saja, tidak tahu nilai bagaimana.

peristiwa tadi membawa saya pada sebuah filosofi hidup, dimana kedua pilihan tadi sama-sama memiliki resiko, namun tingkat resikonya berbeda. menurut saya mengumpulkan duluan adalah pilihan yang lebih beresiko dibandingkan menunggu waktu habis. mengapa? karena resikonya adalah pada akademik, dan berarti ia sudah pasrah saja, namun memberikan sebuah kelegaan lebih cepat dibandingkan yang menunggu. jadi kesimpulannya orang yang mengumpulkan lembar ujian lebih dulu, adalah orang yang berani mengambil resiko untuk lebih cepat menikmati sebuah ketenangan, dibandingkan orang yang masih berkutat di meja dengan segala pikiran dia yang berusaha mendapatkan inspirasi dari setiap stimulus di otaknya.

namun, jika dilihat dari tingkat kesabaran, berarti orang yang menunggu waktu adalah orang yang lebih sabar dalam menghadapi sebuah problematika dibandingkan orang yang mengumpulkan duluan. Orang yang menunggu waktu tetap berusaha sampai titik darah penghabisan mereka meskipun mereka memiliki hasrat untuk keluar dari ruang neraka tersebut.

 

nah! dua kelompok orang tadi saya sambungkan dengan jenis-jenis seorang pemimpin. karena mau tidak mau nanti kami harus memilih pemimpin dari angkatan kami sendiri. nah jenis-jenis pemimpin jika dilihat dari peristiwa pengumpulan lembar ujian ini terbagi menjadi dua yaitu :

1. Pemimpin yang berani mengambil resiko, namun kurang sabar dalam menghadapi masalah

contohnya Ahmadinejad, Presiden Iran. Beliau adalah pemimpin yang berani mengambil resiko lepas dari cengkraman AS. dampak baiknya sampai sekarang ia dan rakyatnya santai saja mengembangkan Nuclear power program yang kelak akan sangat menguntungkan Iran. namu resikonya adalah serangan bertubi-tubi dari AS yang sedikit menggoyangkan ketentraman hidup mereka.

2. Pemimpin yang sabar dan masih mau berusaha lagi, namun dia penakut jika menghadapi resiko besar di depan matanya.

Pemimpin yang sabar itu presiden Indonesia, SBY. beliau sabar SDA kita dikuasai oleh pihak asing, dan beliau belum berani mengambil resiko kita diserang oleh pihak asing. namun disamping itu rakyat Indonesia hidup aman nyaman dan tentram meskipun kurang sejahtera.

 

jadi saya mengajak teman-teman untuk memilih pemimpin yang menurut kalian pantas buat kalian, hidup itu memilih, setiap pilihan pasti ada resiko yang harus di tanggung, hanya saja apakah kita berani dengan resiko yang lebih besar namun sedikit gegabah, atau kita tetap sabar dengan permasalahan di depan kita, dan tidak bertindak cepat mencari jalan keluar.

Adam : jadi gini, aku ngerasa gimana yah, kayak semalam aja yang semalam aku paparkan, dan kalau melihat dari sudut pandnag kamu, kayaknya kamu gak sayang sama aku. masalahnya gini, kamu kan pacarku, tapi tapi aku bahkan sampai harus ngobrol sama orang lain untuk mendapatkan perhatian. aku juga lagi berusaha buat move on, tapi aku belum pdkt, soalnya kita masih dalam ikatan. aku takut nanti berdampak negatif ke aku.

Eve : Santai aja udh kamu ngobrol sama siapapun aku gak masalah. Aku sendiri bahkan yang sudah mempersilakan kamu kalau kamu mau mencari yang lain. begini, memang konsentrasi aku ke visi misi aku ke depan, lagian aku di Bandung melakukan kegiatan sehari-hari seperti jomblo. emang LDR itu gak logis. masalah sayang atau tidak, itu relatif. kalau aku sih sayang sama kamu, tapi sayang aku ke kamu ya sebatas ini. kalau kamu gak ikhlas, bisa diurus sampai seluruh permasalahan beres.

Eve : aku punya goal, aku bukan cewek biasa yang hidup dengan goal biasa, aku harap kamu  mengerti

Adam : ya bukan gitu, maksudku aku takut karma. kalau kamu membiarkan aku berhubungan dengan orang lain, namanya kamu gak sayang sama aku. intinya aku mau dapat lebih banyak perhatian, kalau aku gak dpt dari kamu, ya aku cari yang lain.

Eve : Santai aja, gak m ungkin ada karma karena aku masih bahagia sampai sekarang. aku sayang sama kamu, kalau aku gak sayangaku gak biarkan kamu mencari kebahagiaan kamu dengan orang lain, melainkan memaksa kamu stay with me meskipun aku gak pernah memperhatikan kamu. better i let you.

adam : jadi kondisinya kita berhubungan dengan aku PDKT sama org lain, gt?

Eve : terserah kamu. memang siapa dia namanya? masalahnya dia sendiri mau atau tidak menerima kondisi seperti ini? kalau kamu, nanti kamu sendiri yang akan menjawab pertanyaan siapa yang kamu pilih. aku atau dia.

Adam : namanya DAP. aku belum sampai tahap BBMan tapi aku baru nanya ke temen2 aja mengenai dia. aku juga ngerti visi kamu, kamu gak mau jadi cewek biasa aja. di kampus aku juga banyak Mahasiswa berprestasi tetep menjaga hubungan dengan pacarnya. tunggu, jadi alasan kamu tetep menjaga hubungan ini apa?

Eve : loh justru aku yang nanya ke kamu. kamu kan yang masih keep aku, aku kan sudah ingin pergi dari lama. jangan kamu putar balikan fakta. masalahnya gak semua mapres tersebut LDR. aku juga udh bilang, di bandung ini aku hidup seperti tidak memiliki pacar.

Adam : nah itu dia, kamu ngerasa jomblo karena kamu gak ada keinginan untuk ketemu aku , coba nabung buat ketemu, atau skype an. justru yang LDR itu mapres IP hampir 4.

Adam : aku nanya ke beberapa orang kalo sayang seberapa benci sama pasangannya, dia gak mau pasangannya sama orang lain.

Eve : siapa yang bilang aku mau kamu PDKT sama orang lain? Tapi masalahnya mau gimana lagi. aku tidak cukup membahagiakan kamu, kamu tidak cukup membahagiakan aku. ya selesai, fokus kamu kan ke berpasangan dan percintaan. aku ke visi dan misi aku.

Adam : iya, aku gak pernah membahagiakan kamu? kita kan hidup 24 jam, ada waktu jenuh istirahat, makan. aku juga punya goal dan kegiatan di luar, tapi aku tetep usaha menghubungi kamu. berarti emang kamu ngegebet orang nih.

Eve: gebet?

Adam : maksudnya ngecengin, dan sebagainya

Eve : kamu sama cewek itu gimana ceritanya?

Adam : Soalnya dia menarik

Adam : aku takutnya gini, ini cuma rasa pelampiasan aja, aku takut menyesal kalo gini aja gimana, aku tetep PDKT sama cewek itu, tapi kita tetep jadian seperti biasa. aku sama cewek itu tanpa tujuan apa-apa, kalo aku ngerasa gak nyaman sama dia, dan enggak ada perasaan apapun aku kasih perasaan aku full ke kamu. tapi kamu jangan ngecengin yang lain juga, karena kamu gak berniat kan?

Eve: nah, berarti kamu ngecengin cewek itu dong? sepakat? yaudah gapapa, tapi in one condition. kamu ngeceng aku juga ngeceng.

Adam : kamu gak boleh lah ngeceng, kamu udh sering dari dulu ngeceng orang, sementara aku baru sekali ini.

Eve: kenapa begitu, gak adil. banyak juga yang menarik di ITB. sekarang aku tanya kenapa gak dari dulu kamu ngeceng banyak cewek? kenapa baru sekarang?

Adam : yaudah kalau begitu kalau aku gak ngeceng, kamu gak ngeceng kan?

Eve: bisa aja kamu bohong. sudahlah, lagian kalau kamu ngeceng orang lain kamu bisa nemu cewek yang better dari aku. kalo emang nanti dirasa hubungan kita udah nonsense, ya beres. kamu udh ada calon juga. sudahlah biarkan waktu yang menjawab.

Adam : aku gak mau gitu, aku juga gak akan bohong. aku juga pernah flat sm kamu tapi aku bisa tumbuhkan lagi. aku gak mau kamu ngecengin orang, kalo kamu ngecengin orang, aku bakal berdoa semoga goal kamu gak tercapai.

Eve : kamu curang. gini deh, aku tanya kenapa kamu masih merasa kamu butuh aku? padahal aku udh melepas kamu dari lama.

Eve : tapi ada kemungkinan kan kamu dengan cewek itu akan berhasil, aku mau tanya aja untuk apa hubungan ini dipertahankan.

Adam : karena aku masih sayang sama kamu, aku rasa gak akan ada kemungkinan.

Adam: sekarang jujur sama aku, kamu lagi ngecengin orang ya?

Eve: sekarang aku balik tanya ke kamu , kenapa kamu merasa cewek itu menarik> apa yang motivasi kamu merasakan hal tersebut? apa penyebabnya kamu berfikiran begitu. kamu jawab pertanyaan-pertanyaan aku menjawab pertanyaan kamu ini.

Adam : jadi kamu ngecengin orang lain?! jujur aku sampe sekarang belum ngecengin orang lain!!!

Eve: kamu gak usah berusaha menutup-nutupi kebohongan kamu. malah kamu sendiri yang udah ngasih tau dengan lantang bahwa kamu sedang berusaha menyukai orang lain. laki-laki itu gak akan repot-repot 1. cari tau mengenai seorang perempuan tanpa landasan apapun. 2. merasa perempuan tersebut menarik tanpa perasaan apapun. sudah akui saja. jangan bertingkah bodoh dan berusaha membodohi. aku sudah cukup dewasa untuk menyimpulkan sebuah percakapan.

Adam : kalo emnag kamu bener-bener ngecengin orang aku berdoa semoga goal-goal kamu gak tercapai cita-cita dari kecil kamu gak tercapai. Amin ya rabbal alamin

Eve : oh, aku gak takut sam anacaman kamu. disini aku juga dizalimi. kenapa aku gak gunakan kesempatan itu juga?

Adam : emang kamu gak terfikir kalo aku cuman ngetes aja? emangnya aku udh nyebutin orangnya?

Eve: kamu baca saja pesan kamu sebelum-sebelumnya. ingat aku perempuan 19 tahun, bukan 15 tahun.

 

 

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.